Kumpul Alumni Pasjub Agkatan 12

Bismillah.


Hai rabuuu. Jangan ujan ya hari ini, jemuran saya lagi banyak-banyaknya. Bukan nggak ada alasan saya males nyuci 4 harian kemaren. Saya ditinggal suami pergi jihad. Setelah nunggu hampir 4 bulanan, akhirnya si hubby penempatan. Senengnya, dia udah mulai ada kegiatan lagi, kerja lagi. Sedihnya, saya jadi jomblo (bukan artian sebenarnya). Hahaha. Yah, kapan-kapan aja ya saya cerita tentang dia.


Hari minggu kmaren (14 April) saya gathering keluarga pasjub angkatan XII. Organisasi yang ngurusin baris dan upacara jaman saya masih cupu. Nah, biasanya saya nih yang suka sms buat ngumpulin 17 orang ini. Ehh, hari jumatnya, si uti udah sibuk sms sana sini buat ngumpulin anak-anak yang hijrah ke Jakarta.


Kami sepakat ketemuan di Plaza Indonesia. Makan siang dan ngobrol cantik ceritanya. Tadinya saya kira cuma bertiga atau berempat, ternyata kami bisa ngumpul bertujuh plus cowoknya ana. Lumayan seru.




Dari kiri ke kanan: efi, uti, saya, ujin, nyo-nyo, ades, andi (cowoknya ana), ana. Mereka ini keluarga kecil saya yg lain.




Nyo~nyo. Asli orang Bali. Tersesat dan tumbuh ganteng di Solo. Hihi.




Ana. Kalo di posisi 2 bershaf, dia pasti di sebelah saya. 



Ujin. Rekan curhat yang "menyesatkan" :)
Setelah pembicaraan kita kemaren, jin, ini kesimpulan saya. Kita nggak harus jadi "sama" agar disebut "asik" dalam sebuah komunitas. Jika salah satu dari mereka bisa mengkhianati kita, yang lain perlu waspada karena bisa saja mereka mengkhianati sesamanya. Hiduplah dengan menjadi diri kita sendiri. Hahaha, tumben ya obrolan kita berbobot. 



Ades. Cool, calm, confidence :p




 Uti.  Cewek paling tomboy di pasjub udah jadi mbak-mbak beneran. Dimana aja bisa bedakan sekarang. Hahaha :*




Evi. Paling kalem. Hobi foto-foto.  
*ayok nabung-nabung biar cepet nyusul*


Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari pekerjaan, tempat tinggal, kegiatan di Jakarta, tentang suami saya, pacarnya ujin, sampai rencama pernikahan ana. Aaaah, anggota pasjub yang pertama nikah udah punya 2 anak, trus saya kapaaaan. xoxoxo. Kata mereka, nggak nyangka kalau saya yang bakal pertama kali nyusul si rita untuk nikah muda.




Saya suka bertemu teman-teman lama. Sepertinya, yang ada hanya tawa atas apa yang terjadi kemarin, pahit sekalipun.



Di sela obrolan, tiba-tiba ada yang nyeletuk "kenapa ya kita dulu mau dibentak-bentak ya... Trus nurut aja disuruh ini itu?" Lalu tawa meledak. Kmi jadi membicarakan masa waktu kami masih cupu, masa SMA. Karena organisasi kami bergenre organisasi kepemimpinan, wajar kalau ada bentak-membentak dan senioritas. Keseringan ngumpul sepulang sekolah (baik ngumpul sendiri ataupun dikumpulkan oleh senior) bikin ikatan kami lebih dari sekedar teman biasa. Mereka seperti keluarga buat saya.



Calon pengantinnyaaa. Semoga lancar persiapan pernikahannya yaaa. Happy for both of you ^^ 





Dari nyo~nyo, makasiiiii :)


Baca Selengkapnya...

Merayakan Merelakan

Bismillah.

Hari ini dan seterusnya, saya hanya perlu belajar tertawa seperti biasanya.


Beberapa waktu yang lalu saya merasakan hidup yang amat bahagia, namun tidak di sisi lainnya. Pepatah "bersama kesedihan, selalu datang kebahagiaan" berlaku kebalikan juga ternyata. Saya merasa benar-benar diombang-ambingkan. Seperti ada yang kurang benar dalam tatanan hidup saya. Dan saya yakin, tiap orang pernah mengalaminya.


Beberapa kali kemarahan datang. Bertubi-tubi. Kadang tumpah di telinga, kadang tertahan saja dalam diam. Saya merasa hidup sedang menguji saya dengan begitu berat. Pilihan yang sulit untuk diperjuangkan mengingat apa yang sudah terlanjur menggores. Dan setelah saya sadar dalam beberapa waktu, goresan itu meninggalkan banyak bekas luka.


Maka, waktu yang saya kira cukup untuk menyembuhkannya hilang entah kemana. Saya sudah lelah menjahit, memlester, dan manambal ini itu agar kembali utuh seperti semula. Yang mesti saya sadari, goresan ini sedemikian membekasnya. Sampai saya tidak mau lagi berusaha menutupinya. Saya sibuk memilih bahagia. Dan diantara pilihan saya itu, tibalah saya pada satu kata yang diajarkan oleh ini semua.


Melepaskan.


Hidup terlalu sayang untuk dilewatkan dalam satu episode yang membosankan, menyakitkan. Dan saya belajar satu hal, bahwa melepaskan adalah hal terbaik yang bisa saya usahakan saat ini. Pada akhirnya saya yakin, karena melepaskan akan mengantarkan saya pada keikhlasan. Dan dengan ikhlas, luka sesakit apapun akan sembuh, apalagi yang hanya bekasnya saja.


Terimakasih. Saya anggap hantaman ini sebagai pengingat diri sendiri agar tidak bermuluk-muluk soal perkiraan saya mengenai hubungan antar manusia -bahwa menanam padi akan tumbuh padi-. Ternyata banyak hal diluar perkiraan manusia, dan perkiraan saya memang salah. Menanam padi bisa juga tumbuh rumput.


Bukan pergi, namun hanya memberi ruang bagi hati ini untuk tidak sakit lagi. Demi berharganya hidup yang Allah berikan. Demi berharganya waktu yang sayang untuk disia-siakan.



Pada akhirnya, melepaskan... mengikhlaskan.








gambar dari sini
Baca Selengkapnya...

KRB \^o^/

Bismillah.


Haiii. Senin yang sepi dengan Missy saja di dalam kelas kantor. Magang yang aneh -__-"

Geli baca judul postingan saya sendiri. Wkwk.


Sabtu kemarin saya sama hubby membolang lagi lho. Lokasi yang jadi sasaran kami adalaaaaah Bogor botanic garden alias kebun raya Bogor. Qeqeqe. Biasa aja ya? Nggak tuh :p Soalnya kami memang sedang menikmati waktu-waktu kosong buat berduaan seperti ini. Hihihi.




Deket pintu masuk ada map KRB. si hubby selalu ngeliat ke foto ini pas kita lagi jalan. Endingnya sekenanya juga kami muternya :p




Ummm. ummm. ini namanya pohon... pohon apa yak. saya sebut saja dia pohon raksasa. guede banget soalnya. Habis foto2 deket pohon ini (deket jembatan) ada beberapa petugas keamanan yg lari kesana-kemari. Innalillahi wa inna ilaihi roji'un, ada mayat bapak-bapak ternyata di sungai . Pas ngeliat itu, saya sama hubby langsung ikut sedih aja :'(





Ini ada di gerbang depan KRB






Liburan murah meriah. Cocok untuk pasangan muda baru menikah yang sumpek sama hawa Jakarta.




Teratainya guede *pasang muka kota*




Iseng-iseng pas istirahat deket danau depan istana Bogor.




Suka banget suasana di sepanjang jalan ini. Soalnya ada orang ini ^^



 




Narsis duyu aaaahhh




Ini di jembatan merah. Pokoknya kalau ke KRB, harus banget ke jembatan ini. Filosofinya apa saya juga nggak paham :D Semacam monasnya jakarta lah.




Saranghae oppa :)




Jeung, disini panas banget jeung -___-" Tapi teteup lah ya kami nggak lupa bernarsis ria :p




Saya suka pohon ini. Soalnya dari jauh keliatan unyu. Bunganya yang kuning-kuning gede itu semacam nemplok-nemplok di pohon yang daunnya ijo.




Aku ingin membuat sebanyak mungkin memori dengan kamu di dunia. Entah suka, entah duka. 
Saranghae Arga Eka Wiratama :*
Baca Selengkapnya...

Oktober-Maret

***
ini bulan oktober. mulai tanggal 6, aku resmi jadi pengangguran. ups. calon pns tepatnya. ya. sebuah janji dari kampus tempatku berkuliah. harusnya bulan ini juga aku mulai magang. menjalani hari-hari mondar-mandir otista-budi utomo. bangun pagi, berdesakan di transjakarta, jadi anak magang baru di kantor, pulang sore, dkk. sibuk bergosip tentang penempatan dan kapan waktunya, upload foto kegiatan dikantor, dkk. tapi itu semua cuma angan saja. karena satu hal dan lainnya, acara magang dst buat angkatanku belum ada kepastian. september kemarin sangat melelahkan, banyak hal yang harus diperjuangkan. sidang skripsi dan revisi plus cobaan saat pengumpulan draft skripsi. semuanya datang bertubi-tubi.


apa kupu-kupu di perutmu masih seberisik dulu? aku kangen kamu.

***


itu postingan saya bulan oktober lalu. masih dalam bentuk draft ternyata. saya publish sekarang aja yaaa. wkwk. plus tambahannya :)


sekarang bulan maret. saya sudah mulai magang. tapi bukan otista-budi utomo yang saya lewati, melainkan otista-jagakarsa. saya juga bangun pagi. tapi bukan jam 5 seperti bayangan ketika akan magang di BPS pusat, melainkan jam 3.30 karena harus memasak, mencuci, dan bangun dengan bahagia untuk seseorang. tiap pagi saya juga berdesakan, tapi bukan di trans jakarta, melainkan di kereta ekonomi, angkot 44, dan angkot 16. soal gosip penempatan, saya tidak mau lagi menganggapnya gosip. saya yakin instansi tempat saya bernaung akan mengusahakan yang secepatnya, sebaik-baiknya untuk angkatan saya, sama seperti apa yang mereka usahakan untuk kakak kelas kami. kalau september melelahkan, maka februari-maret adalah bulan yang membahagiakan untuk saya. bagaimana berganti peran dari pengangguran menjadi pekerja, bagaimana berganti status dari singgel ke dobel :) ops.


apa kupu-kupu di perutmu masih seberisik dulu? aku sayang kamu.








Baca Selengkapnya...

Prasangka

Bismillah. 


Jumat yang sepi. Dengan setumpuk prasangka yang datang dan tidak selesai-selesai dan... perasaan kangen kamu. Sudah saya bilang, saya lelah. Dan akan saya terima apapun yang datang kepada saya dengan rasa syukur. Termasuk setumpuk prasangka itu. Saya lelah menjelaskan. Saya lelah tidak bisa dewasa. Saya lelah menghadapi orang yang kelelahan juga. 


...ingin sekarang juga saya membeli tiket kereta kelas apapun ke arah stasiun kalibata. lalu naik 06 dengan bayar 5x lipat agar bisa segera mengantarkan saya ke depan kampus. lalu ingin berlari sekencangnya saya ke arah flat kita yang 2x3 itu... menemuimu, memelukmu, menangis sekencangnya di pundakmu,... pulang.


Kata orang, dewasa itu tidak mempermasalahkan hal remeh. Dewasa itu, tidak menganggap dirinya yang paling benar dan bisa menghargai perasaan orang lain, merasakan apa yang mereka juga rasakan. Seandainya mereka tahu, saya sedang sungguh-sungguh belajar menjadi dewasa. Seandainya mereka mau sedikit tahu, orang dengan setumpuk prasangka dari kalian ini sedang terus berdoa untuk keutuhan persahabatannya.




Baca Selengkapnya...

Kota Tua

Bismillah.



Hai. Rabu siang yang panasss. weekend kemarin saya lagi-lagi ke kota tua. Nggak tau kenapa ya, meskipun hawa Jakarta lagi menyengat-menyengatnya, saya teteup pengen kesana. Kali ini sama si hubby. Dulu, kami pernah kesana juga, tapi salah waktu karena kami datang sore hari menjelang malam minggu. Yang ada cuma nonton orang-orang pada nggelar dagangannya di tengah lapangan depan museum Fatahilah. Crowdednya minta ampun.


Jadi, karena saya udah mulai kerja dan karena weekend sama hubby cepat atau lambat akan berakhir (sebelum dia penempatan) jadi kami memutuskan buat dateng ke tempat-tempat seru di Jakarta. Yah, meskipun ada dia aja udah seru, tapi ya bosen juga kalau cuma di rumah dengan dia yang asik baca dan saya yang asik ngebabu. Daaan, destinasi kami jatuh pada kota tua.


Jam sembilan kami berangkat dari flat kami. Karena si tigi (motor dia) sementara pulang kampung dulu, maka kami naik kereta ke stasiun Jakarta kota. Setelah sampai disana, kami sempat bernarsis ria di stasiun. Nggak tau kenapa, menurut saya stasiun itu salah satu tempat romantis. Alasannya simpel, karena kursi duduknya, pilar peronnya, relnya, sepi-dan-ramenya, juga ada saya di sudut-sudutnya.










Nah, begitu keluar dari stasiun, kami masuk ke museum bank indonesia. Pertama kali ke tempat ini kira-kira tiga tahun lalu, sama dua sahabat saya. Banyak yang nggak berubah, kecuali mainan tangkap-tangkap koin pake bayangan, sekarang udah nggak ada. Ini dokumentasi di museum bank indonesia. Hahaha. Rada nggak layak publish untuk artikel jalan-jalan, tapi buat tulisan pribadi sih, nggak papa lah.


































Seru-seruan kami pindah ke kota tuanya. Karena panasnya udah nggak pake kompromi-kompromian, kami nggak seaktif waktu di museum yang adem dan dingin. So, nurutin saya yang lagi ngidam (entah ngidam buat siapa, wkwk) akhirnya dia mau juga naik sepeda onthel. Tadinya dia nggak mau, katanya panasss. Tapi, rayuan maut saya mempan juga akhirnya. Hehehehe.



 















Baca Selengkapnya...

Ngelamar (?)

3 Februari 2012


Semalam kita bertengkar lagi. Yang ini entah karena apa. Aku lupa. Yang jelas, bukan karena kamu biasa saja di malam menjelang ulang kelahiranku. Dalam ponselku, ada beberapa kata-kata yang sengaja aku kirimkan untuk membuatmu marah. Aku menganggap ini sebagai ekspresi diri, yang menuntut untuk dipahami.


"besok aku ke kosan ya..."

"terserah"


Lalu malam digantikan pagi. Udara dingin tadi malam, luruh jadi titik-titik air di depan jendela kamar. Tidak seperti mereka, kemarahanku belum luruh juga.


Sekitar jam sembilan, kamu datang. Tetap, dengan mimik sok innocent yang manja. Lalu babibu keluar dari mulut kita masing-masing. Pertengkaran lagi. Lalu aku menangis. Lalu kamu duduk bertumpu dengan lutut, di depanku. Memohon agar aku berhenti menangis, dan melihat apa yang kamu bawakan pagi ini.


Aku kaget. Kamu memegang tanganku dan sebuah cincin, lengkap dengan namamu. Tanpa mengatakan apapun (kecuali tetap menyuruhku diam), kamu melihatku dengan tatapan khawatir (yang lebih mirip seorang bapak khawatir pada anaknya). Lalu beberapa menit kemudian, kita kembali berbaikan.


Tidak ada yang tahu kalau di hari ulang tahun ke-23-ku, pertama kalinya ada seorang laki-laki memberiku cincin. Dan anehnya dia tidak mengatakan apapun kecuali menyuruh aku berhenti menangis :|


Hari ini, yang mau saya bilang adalah, meskipun saya tidak mendapatkan cincin mahal dari lelaki seromantis dan secharming yang ada di cerita cinderella, saya dapat satu juga. Meskipun sederhana, ada yang benar-benar bersungguh-sungguh mendapatkan itu, untuk saya. Ketika saya tidak mendapatkan ucapan "will you marry me" di cafe lengkap dengan lilin-lilin dan alunan piano yang bikin melting, saya berkesempatan mendengar kalimat itu hampir setiap hari dari lelaki saya ini. Daaan, meskipun saya nggak ditutup-tutup matanya untuk mendengar lamaran dari seseorang, saya dilamar juga (hihihi) :p


Beda kepala memang beda kreatifitasnya. I'm so fortunate to be part of this show. Aaaaa Allah sayang akuuu :')  Anyway, kami menjalani hari-hari yang lebih berwarna lagi lho setelah hari itu, plus marahnya, plus sayangnya :)






Baca Selengkapnya...