Showing posts with label Coretan Cerita. Show all posts
Showing posts with label Coretan Cerita. Show all posts

Malaikat di Sekitar: Emak


Bismillah.


Akhir-akhir ini saya jarang tidur malam. Jadi susah juga mau sekedar ngeblog.

Emm. saya mau nunjukin salah satu "malaikat di sekitar" yang saya punya. Hampir dua bulan setelah menikah, saya menempati dua kos. Satu kos lama saya (yang saya tengokin kadang-kadang di hari kerja-dan saya tempati sama si hubby saat hari libur) satunya adalah kos emak (yang hubby dan saya tempati di hari kerja dan dianggurin saat hari libur). Ribet ya? Enggak.

Emak ini janda dengan enam orang anak. Karena beliau tinggal sendiri dan kebetulan kamar kosannya ada yang lagi kosong, akhirnya saya sama hubby memutuskan tinggal di tempat tersebut. Selain punya kos-kosan, emak punya sebuah warung kecil. Jadi kalau butuh apa-apa, kami tinggal turun saja ke lantai bawah.

Emak sudah seperti nenek kami sendiri. Beliau sayang banget sama saya dan si mas. Suatu sore, mas memberitahu emak tentang kabar penempatannya. Besoknya waktu saya pulang kerja, emak yang sedang menunggui warung menghampiri saya.

"Neng, si mas bentar lagi penempatan ya neng..." 

"Iya mak. Saya minta doa restunya ya mak. Maaf juga kalau selama saya sama mas disini banyak ngrepotin emak" 

"Iya neng... Padahal baru sebentar ya neng..." .... dan emak pun menangis.

Saya jadi ikut nangis waktu emak bereaksi demikian.

Di rumah kecil itu, akan selalu ada kotak berisi kenangan indah saat dibuka nantinya. Ada saya, si mas, tawa kecil, tangisan sederhana, dan malaikat kami.

Saya yakin, dia hanya satu dari "malaikat-malaikat di sekitar" yang dikirim Allah untuk kami.


ini foto bersama dua hari sebelum mas penempatan


Terimakasih emak :)




sayang emak :')
Baca Selengkapnya...

Papandayan, I'm in Love


Baru-baru ini ada beberapa temen yang pergi ke gunung Papandayan. Hummm, jadi inget setahun lalu kesana juga sama temen-temennya si hubby. Dan sampai sekarang belum sempet nempelin fotonya di lapak gelap.


Yakk, tepat tanggal 12-14 April 2012 (pas banget ulang bulan) saya, hubby (dulu masih calon suami :p), mas ubay, mas cahyo, mas fufu, yeyen, dan mbak wida nekat ke papandayan. Saya sendiri sebenernya suka sama kegiatan macam pecinta alam yang naik-naik gunung. Tapi karena nggak pernah dapet restu orang tua untuk ikut organisasi kepencita-alaman jadi ya minim pengalaman. Tapi jangan salah, boleh diuji fisik saya soal beginian.


Saya sempet nulis tentang trip ke papandayan di tumblr tahun lalu. Jadi, saya copasin aja ya ke sini. Hihi.


 ***


Hari jumat tanggal 13 kemaren, aku ikut rombongan mamas “muncak”.

Tujuannya... gunung Papandayan, di Garut. Kami berangkat dari terminal Lebak Bulus jam 10 malam, pake bus terakhir. well, karena aku gak bisaan banget naek bus, sepanjang perjalanan tidur terus karena efek antimo. Hahaha. Ya mending lah daripada mabuk darat laut dan udara :p



Formasi lengkap. Yeyen, mas fufu, mbak wida, mas ubay, aku, mantan pacar, dan mas cahyo.


Sampai di Garut jam 3 pagi. Disana udah ada bang… (aku lupa nama abangnya). Kami dijemput naik mobil bak terbuka menuju pos di kaki gunung Papandayan. Brrr. Duinginnya minta ampuuun. Sampai disana sekitar jam 4. Masih gelap banget. Dan suasana jadi makin romantis karena kami harus numpang di salah satu warung untuk menghangatkan diri (baca: nimbrung sama “teteh” di warungnya lalu membajak sebuah lampu petromag buat ngangetin badan).


Menunggu pagi di warungnya teteh. Brrrrrr.


Oiya, aku malah lupa memperkenalkan rombongan kami. Pimpinan ekspedisi kali ini mas ubay (mas bayu). Seksi perlengkapan ada mas fufu (mas fuad), mas cahyo, dan mas arga. Seksi konsumsi ada mbak widha dan yang bawaannya nggak jelas ada yeni dan aku.

Lanjut ke cerita awal :D


Dan, dimulailah perjalanan kita...



Dimana-mana asap. Sepanjang perjalanan menuju ke pondok salada. Subhanallah.



Karena langit yang ngambeg terus dari kami tiba sampai pagi, sekitar jam 8an kami baru naik. Pendakian berlangsung seru. Berliku-liku. dan becekkk. sekitar 3 jam, kami sampai di pondok salada. Tempat ini semacam tanah lapang yang luas, fungsinya untuk camping. Sekitar sejam kami mendirikan tenda, bercanda-ria, dan membereskan perlengkapan. Rencana untuk langsung chao treking lagi gagal karena hujan yang nggak mau berhenti.

Setelah menunggu, jam setengah 2 kami berangkat. Bermodalkan nekat dan nyali, kami berniat menuju ke death forest. Semacam hutan dengan tanah warna putih dan pohon2 yang mati terkena lahar. Dari kejauhan sepanjang perjalanan menuju ke pondok salada, sebenarnya kami telah melihat tempat itu. Kata seorang bapak warga asli Papandayan yang kami temui, death forest tempatnya dibalik bukit.

And you know? Di sini banyak sekali bukit yang killer banget viewnya. Huhu.


Jalan sama para pencari belerang






Istirahat di tengah perjalanan. Melancarkan aksi foto-foto.



Bukan dimana, tapi dengan siapa. I love you yesterday, today, and (Insya Allah) tomorrow.



Mereka yang sekampus. Mas fufu, mantan pacar, mbak wida, mas cahyo, dan mas ubay.



Kumpul bocah ^^v



Happy happy together



Killer view



Death forest dari kejauhan


Bermodal nekat, naik saja kami menuju arah yang diberitahukan seorang teman sesama pendaki. Kami berusaha mencari sisa-sisa potongan tali rafia yang ditinggalkan pendaki sebelumnya. Tapi lama kami menyadari, makin jauh kami dari death forest. Damn. Selama hampir dua jam kami tersesat. Ternyata ohh.

Dalam perjalanan pulang ke pondok salada, mas fufu punya ide. Karenanya, kami mencoba rute lain menuju death forest. Waktu yang ditargetkan setengah jam. Kalau dalam setengah jam kami tidak menemukannya, maka kami harus segera pulang ke tenda.

And it’s amazing!!! Dalam waktu kurang dari 20 menit kami sampai di death forest. Ternyata jalan awal yang kami lalui itu arah sebaliknya. Alhamdulillah ya Allah. Hehehhe






Mas cahyo yang sedang membully dirinya sendiri -__-



Seneng banget kamu, Nob :p



Pose tercupu. Hihihi. :*



Fotografer kitaaaaa



Itemmm semuanyaaa



Karena hari mulai gelap, kami memutuskan untuk pulang, beristirahat, dan tentu saja„, makan. Cacing di perut kami sudah dari tadi minta nasi :p Perjalanan menuju padang edelweis kami lanjutkan keesokan harinnya.

Berkemah di alam terbuka sebenarnya bukan yang pertama buatku. Dan semua camping di gunung menyisakan satu hal yang menjengkelkan. Dingin. Meskipun aku sudah memakai jaket tebal yang dibawakan teman sekosan dan sleeping bag yang tebal itu, tetap saja… Duiiiingiiiiiiiinnnn banggeddd udaranya.


Ini tenda kami. Sederhana tapi penuh cinta. Eaaakkkk...



Begitu tenda berdiri, langsung pada teparr dan berpose malas di tenda masing-masing



Mas fufu. Menikmati makan siang.



Tenda cewek-cewek kece


Tau nggak, malam di Papandayan aku habiskan dengan main UNO. Dari dulu aku sudah sering denger UNO, tapi, main langsung ya baru di sini. Sama mbak widha, yeni, mas fufu, dan mas arga. Seru, sampai dalam beberapa jam, kami nggak sadar kalau kami sedang kemping di gunung. Soalnya hawa dingin tiba-tiba saja menghilang entah kemana. Tapi seiring mata yang sudah nggak bisa lagi diajak kompromi, kami nyerah juga.

Pagi hari kami berangkat lagi menyusuri death forest. sekitar seperempat jam kami tiba (lagi) di sana. Lumayan lah.

Oiya, ngomong-ngomong masalah naik gunung, susah sekali bicara “puncak” di Papandayan. Terakhir kami dengar dari orang-orang, 10 orang pendaki tersesat karena mencari puncak gunung Papandayan. Kalau nggak pake pemandu, susah sekali. Apalagi dalam cuaca hujan dan kabut yang terus membayangi, target kami kali ini padang edelweis, tegal alun.


Perjalanan ke tegal alun. Jalannya naik-naik ke puncak gunung terus.


Kami menyusuri jalan yang agak curam. Terus naik yang jelas. Sesekali saat kami berhenti, banyak ketenangan yang nggak bisa kami dapatkan di ramainya Jakarta. Benar-benar sejuk, tenang, alami, hijau, dan damai. Sangat indah. Di depan kami menghampar gundukan gunung, bukit, dan langit yang cerah. Asap dari kawah Papandayan dan beberapa suara memanjakan telinga, kicauan burung. Sungguh, tidak bisa memenui semua ini setiap hari. Di sana yang tersisa adalah rasa syukur. Karena aku sudah bisa merasakan semua itu bersama orang yang aku sayangi.

Sempat kami menebak-nebak, apa mungkin beberapa kilometer dari death forest ini puncaknya? Tapi, kami segera sadar kalau masih ada jalan yang membawa kami ke tempat yang lebih tinggi. Di depan semak-semak dan tanjakan yang agak gelap, ada cahaya terang yang datang dari arahnya.

Hwaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Padang edelweis!!!

Kami akhirnya sampai di sana. Alhamdulillah ya Allah. Perasaan lega dan senang luar biasa kami ekspresikan dengan berteriak sekencangnya. Lari sekencangnya lalu berhampuran ke padang. Indah sekali.



Cheers ^^/



Mas cahyo. Senyum anak bangsa.



 Aku sama yeyen



Capek lari-larian. Begitu duduk dan liat ada kamera langsung pada pose.



"Aku punya temaaan.... teman sepermainaaan... Uhuhuh." Maia mode ON.



Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! Indahnya duniaaaaaaaaa!!!!



Padang edelweis



Foto yang ini dari kamera yang aku bawa. It's too beautiful, isn't it?


Selama satu jam kami menikmati suasana di tegal alun. Berfoto, saling canda, dan lari kesini-kesana. Menyenangkan.

Lalu kami turun dengan perasaan gembira. Masih sama seperti judul keberangkatan kami kemarin. Fun Piknik. Dan 3 hari ini memang luar biasa.

Meskipun mbak widha nggak ikut memburu death forest dan padang edelweis, tapi kami harus berterimakasih. Karenanya, tenda jadi rapi dan semua piring sudah dicuci. Hihihihi. Lain kali ikut naik yuk mbak :)


 Habis dirapiin sama mbak wida, trus kita berantakin lagiii :D wkwkwkwkwk



Ini ceritaku 13-15 April 2012


***

Foto-foto diambil oleh mas ubay. Kamsahamnida mas uuuub :')
Baca Selengkapnya...

Kumpul Alumni Pasjub Agkatan 12

Bismillah.


Hai rabuuu. Jangan ujan ya hari ini, jemuran saya lagi banyak-banyaknya. Bukan nggak ada alasan saya males nyuci 4 harian kemaren. Saya ditinggal suami pergi jihad. Setelah nunggu hampir 4 bulanan, akhirnya si hubby penempatan. Senengnya, dia udah mulai ada kegiatan lagi, kerja lagi. Sedihnya, saya jadi jomblo (bukan artian sebenarnya). Hahaha. Yah, kapan-kapan aja ya saya cerita tentang dia.


Hari minggu kmaren (14 April) saya gathering keluarga pasjub angkatan XII. Organisasi yang ngurusin baris dan upacara jaman saya masih cupu. Nah, biasanya saya nih yang suka sms buat ngumpulin 17 orang ini. Ehh, hari jumatnya, si uti udah sibuk sms sana sini buat ngumpulin anak-anak yang hijrah ke Jakarta.


Kami sepakat ketemuan di Plaza Indonesia. Makan siang dan ngobrol cantik ceritanya. Tadinya saya kira cuma bertiga atau berempat, ternyata kami bisa ngumpul bertujuh plus cowoknya ana. Lumayan seru.




Dari kiri ke kanan: efi, uti, saya, ujin, nyo-nyo, ades, andi (cowoknya ana), ana. Mereka ini keluarga kecil saya yg lain.




Nyo~nyo. Asli orang Bali. Tersesat dan tumbuh ganteng di Solo. Hihi.




Ana. Kalo di posisi 2 bershaf, dia pasti di sebelah saya. 



Ujin. Rekan curhat yang "menyesatkan" :)
Setelah pembicaraan kita kemaren, jin, ini kesimpulan saya. Kita nggak harus jadi "sama" agar disebut "asik" dalam sebuah komunitas. Jika salah satu dari mereka bisa mengkhianati kita, yang lain perlu waspada karena bisa saja mereka mengkhianati sesamanya. Hiduplah dengan menjadi diri kita sendiri. Hahaha, tumben ya obrolan kita berbobot. 



Ades. Cool, calm, confidence :p




 Uti.  Cewek paling tomboy di pasjub udah jadi mbak-mbak beneran. Dimana aja bisa bedakan sekarang. Hahaha :*




Evi. Paling kalem. Hobi foto-foto.  
*ayok nabung-nabung biar cepet nyusul*


Banyak hal yang kami bicarakan, mulai dari pekerjaan, tempat tinggal, kegiatan di Jakarta, tentang suami saya, pacarnya ujin, sampai rencama pernikahan ana. Aaaah, anggota pasjub yang pertama nikah udah punya 2 anak, trus saya kapaaaan. xoxoxo. Kata mereka, nggak nyangka kalau saya yang bakal pertama kali nyusul si rita untuk nikah muda.




Saya suka bertemu teman-teman lama. Sepertinya, yang ada hanya tawa atas apa yang terjadi kemarin, pahit sekalipun.



Di sela obrolan, tiba-tiba ada yang nyeletuk "kenapa ya kita dulu mau dibentak-bentak ya... Trus nurut aja disuruh ini itu?" Lalu tawa meledak. Kmi jadi membicarakan masa waktu kami masih cupu, masa SMA. Karena organisasi kami bergenre organisasi kepemimpinan, wajar kalau ada bentak-membentak dan senioritas. Keseringan ngumpul sepulang sekolah (baik ngumpul sendiri ataupun dikumpulkan oleh senior) bikin ikatan kami lebih dari sekedar teman biasa. Mereka seperti keluarga buat saya.



Calon pengantinnyaaa. Semoga lancar persiapan pernikahannya yaaa. Happy for both of you ^^ 





Dari nyo~nyo, makasiiiii :)


Baca Selengkapnya...

Ngelamar (?)

3 Februari 2012


Semalam kita bertengkar lagi. Yang ini entah karena apa. Aku lupa. Yang jelas, bukan karena kamu biasa saja di malam menjelang ulang kelahiranku. Dalam ponselku, ada beberapa kata-kata yang sengaja aku kirimkan untuk membuatmu marah. Aku menganggap ini sebagai ekspresi diri, yang menuntut untuk dipahami.


"besok aku ke kosan ya..."

"terserah"


Lalu malam digantikan pagi. Udara dingin tadi malam, luruh jadi titik-titik air di depan jendela kamar. Tidak seperti mereka, kemarahanku belum luruh juga.


Sekitar jam sembilan, kamu datang. Tetap, dengan mimik sok innocent yang manja. Lalu babibu keluar dari mulut kita masing-masing. Pertengkaran lagi. Lalu aku menangis. Lalu kamu duduk bertumpu dengan lutut, di depanku. Memohon agar aku berhenti menangis, dan melihat apa yang kamu bawakan pagi ini.


Aku kaget. Kamu memegang tanganku dan sebuah cincin, lengkap dengan namamu. Tanpa mengatakan apapun (kecuali tetap menyuruhku diam), kamu melihatku dengan tatapan khawatir (yang lebih mirip seorang bapak khawatir pada anaknya). Lalu beberapa menit kemudian, kita kembali berbaikan.


Tidak ada yang tahu kalau di hari ulang tahun ke-23-ku, pertama kalinya ada seorang laki-laki memberiku cincin. Dan anehnya dia tidak mengatakan apapun kecuali menyuruh aku berhenti menangis :|


Hari ini, yang mau saya bilang adalah, meskipun saya tidak mendapatkan cincin mahal dari lelaki seromantis dan secharming yang ada di cerita cinderella, saya dapat satu juga. Meskipun sederhana, ada yang benar-benar bersungguh-sungguh mendapatkan itu, untuk saya. Ketika saya tidak mendapatkan ucapan "will you marry me" di cafe lengkap dengan lilin-lilin dan alunan piano yang bikin melting, saya berkesempatan mendengar kalimat itu hampir setiap hari dari lelaki saya ini. Daaan, meskipun saya nggak ditutup-tutup matanya untuk mendengar lamaran dari seseorang, saya dilamar juga (hihihi) :p


Beda kepala memang beda kreatifitasnya. I'm so fortunate to be part of this show. Aaaaa Allah sayang akuuu :')  Anyway, kami menjalani hari-hari yang lebih berwarna lagi lho setelah hari itu, plus marahnya, plus sayangnya :)






Baca Selengkapnya...

Kamu

aku menemukanmu tiba-tiba. dan sejak saat itu, ada banyak kembang api meledak di semestaku. apa kamu tahu? hampir tiap hari aku jatuh cinta padamu. terimakasih Rabbku.























udah nggak tau berapa banyak postingan dengan judul ini lapak gelap.
Baca Selengkapnya...