Showing posts with label Meracau. Show all posts
Showing posts with label Meracau. Show all posts

Rindu

Apa kamu pernah merasa rindu yang meskipun menangis sejadi-jadinya pun rasanya tidak pernah bisa selesai? Apa kamu pernah merasa rindu yang ingin segera kamu pulangkan tapi waktu menyuruhmu tetap berdamai dengan hati? Apa kamu pernah merasa rindu yang membuatmu merasa kesepian di tengah keramaian? Apa kamu pernah merasa rindu yang bahkan dengan lari pagi pun, dengan berjalan sendiri pun, dengan mendengarkan musik pun, dengan melihat fotonya pun, membuatmu seperti minum air asin?







aku rindu
Baca Selengkapnya...

Senyum Kita Pagi ini


Tak ada yang salah dengan senyum kita pagi ini. Sedikit canggung, tapi tak apa. Setelah sempat terhanyut oleh hujan yang ku kira salah musim, masing-masing diri kita telah menemukan pelajarannya. Aku mendapat porsi untuk merelakan. Sedangkan kalian...aku yakin juga mendapat porsi yang sama, meskipun beda rasa. Entah itu kedewasaan, entah itu kepercayaan.










Baru diposting setelah berbulan-bulan duduk-duduk di draft. Hai teman lama... baik-baik ya.


Gambar dari vi.sualize.us
Baca Selengkapnya...

Tidak Lebih, Tidak Perlu Dilebih-Lebihkan

Arti sahabat kadang sesederhana saat ini. Mereka yang menemani tertawa dan tidak berpura-pura. Tidak lebih, tidak perlu dilebih-lebihkan. Kadang saking percayanya dengan seseorang, justru kita tidak pernah tahu. Bahwa suatu saat kita bisa mendapati diri kita sedang mengepak namanya dalam satu kotak. Kotak yang isinya penuh dengan hal-hal menyenangkan, namun melukai kita pelan-pelan. Kotak yang ingin kita kuburkan, tinggalkan, lalu kita lupakan. Kotak yang kita harapkan tidak ditemukan oleh siapapun di masa depan.


Baca Selengkapnya...

Merayakan Merelakan

Bismillah.

Hari ini dan seterusnya, saya hanya perlu belajar tertawa seperti biasanya.


Beberapa waktu yang lalu saya merasakan hidup yang amat bahagia, namun tidak di sisi lainnya. Pepatah "bersama kesedihan, selalu datang kebahagiaan" berlaku kebalikan juga ternyata. Saya merasa benar-benar diombang-ambingkan. Seperti ada yang kurang benar dalam tatanan hidup saya. Dan saya yakin, tiap orang pernah mengalaminya.


Beberapa kali kemarahan datang. Bertubi-tubi. Kadang tumpah di telinga, kadang tertahan saja dalam diam. Saya merasa hidup sedang menguji saya dengan begitu berat. Pilihan yang sulit untuk diperjuangkan mengingat apa yang sudah terlanjur menggores. Dan setelah saya sadar dalam beberapa waktu, goresan itu meninggalkan banyak bekas luka.


Maka, waktu yang saya kira cukup untuk menyembuhkannya hilang entah kemana. Saya sudah lelah menjahit, memlester, dan manambal ini itu agar kembali utuh seperti semula. Yang mesti saya sadari, goresan ini sedemikian membekasnya. Sampai saya tidak mau lagi berusaha menutupinya. Saya sibuk memilih bahagia. Dan diantara pilihan saya itu, tibalah saya pada satu kata yang diajarkan oleh ini semua.


Melepaskan.


Hidup terlalu sayang untuk dilewatkan dalam satu episode yang membosankan, menyakitkan. Dan saya belajar satu hal, bahwa melepaskan adalah hal terbaik yang bisa saya usahakan saat ini. Pada akhirnya saya yakin, karena melepaskan akan mengantarkan saya pada keikhlasan. Dan dengan ikhlas, luka sesakit apapun akan sembuh, apalagi yang hanya bekasnya saja.


Terimakasih. Saya anggap hantaman ini sebagai pengingat diri sendiri agar tidak bermuluk-muluk soal perkiraan saya mengenai hubungan antar manusia -bahwa menanam padi akan tumbuh padi-. Ternyata banyak hal diluar perkiraan manusia, dan perkiraan saya memang salah. Menanam padi bisa juga tumbuh rumput.


Bukan pergi, namun hanya memberi ruang bagi hati ini untuk tidak sakit lagi. Demi berharganya hidup yang Allah berikan. Demi berharganya waktu yang sayang untuk disia-siakan.



Pada akhirnya, melepaskan... mengikhlaskan.








gambar dari sini
Baca Selengkapnya...

Ketertinggalan

Bismillah.

Siang ini saat menulis lagi di blog, cuaca di tempat saya magang, Pusdiklat BPS RI, masih segar dengan bau gerimis. setelah seminggu lebih saya tidak masuk kantor, saya baru sadar kalau banyak sekali yang saya tinggalkan. Berbeda dengan teman seperjuangan yang magang di BPS Pusat dan di STIS, kegiatan saya dan kami di Pusdiklat sebenarnya bisa dibilang santai. Kami diperbantukan di unit pelaksanaan diklat teknis fungsional (DTF). Tugas kami membuat modul dan video diklat jarak jauh, dan saya kebagian mengerjakan modul eksplorasi data.


Ketertinggalan saya tadi, erat hubungannya dengan cuti 6 hari minggu kemarin. Alhamdulillah, 16 Februari saya resmi menyandang gelar istri dari lelaki bernama Arga Eka Wiratama. Lega sekali rasanya. Setelah sekian lama membeku dalam balok es kebimbangan, akhirnya dengan akad nikah yang berlangsung lancar, semuanya mencair. Persis seperti doa-doa yang selalu saya dan mas panjatkan.





Bicara soal ketertinggalan, sepertinya harus banyak yang saya harus kejar. Maksudnya, untuk diri saya pribadi. Apalagi dengan status saya sekarang, rasanya saya harus mengajukan proposal baru. saya ingin menata hidup dengan lebih baik. Sebagai seorang anak, seorang istri, kakak dari 2 orang adik (sekarang 4 orang), dan saudara bagi orang-orang di sekitar saya. Terus terang, saya ingin menjadi pecinta yang lebih baik. Mencintai mereka yang memberikan saya cinta ataupun yang nasibnya terikat dengan saya meskipun hanya lewat simpati. Saya, yang masih banyak kurang ketimbang lebihnya, ingin mewujudkan mimpi saya sebagai seorang manusia.


Akhir-akhir ini saya banyak meminta pada Allah. Minta ampunan, minta belas kasihan, minta kasih sayang, minta penjagaan, minta ridho dan rahmat. Sebagai manusia, saya punya mimpi untuk menjadi orang yang berhasil, di dunia, di akherat. Karena itu, apa-apa yang ketinggalan dari orang-orang sholeh dan sholehah, yang hanya karena sibuk mengurusi masalah orang lain, ingin sekali saya kejar. Meskipun sebagai hambanya Allah saya sering lupa, tapi hari ini, dengan kerisauan ini, Allah berbaik hati mengingatkan saya lagi.


Saya ingin proposal kehidupan saya di-acc oleh Allah. Saya ingin dipilihkan skenario terbaik versi Allah. Maka, hamba yang sering meminta ini ingin bersungguh-sungguh. Berusaha bersungguh-sungguh dalam mengejar ketertinggalan yang banyak tadi, dengan banyak meminta, dan banyak menerima. Meminta kebaikan dari Allah, menerima segala pemberian dari Allah. InsyaAllah.



Tiap orang melakukan dosa, 
tapi sikap terbaik adalah memuliakan kelanjutan sejarahnya
(Salim A. Fillah) 




pict from http://inertia09.deviantart.com/art/Web-Bokeh-142821602

Baca Selengkapnya...

Mengejar Apa

Hari ini, saya melihat seorang gadis memenangi sebuah lomba penulisan karya ilmiah. Setahu saya, dia sangat pintar, brilian. Kata seorang teman, sebelum masuk ke universitas dia mendapat peringkat pertama nilai ujian nasional terbaik sebuah provinsi di pulau Jawa. Baru saya tahu, ternyata sejak kecil orang tuanya menanamkan pada diri gadis tersebut tentang pentingnya apresiasi diri. Maka ia hidup untuk mengejar prestasi. Saya pikir, ini sebagian arti kebahagiaan buat dia. 


Hari ini saya juga bertemu dengan seseorang yang terlalu memaksa dirinya. Dia ingin selalu tampil sempurna di depan orang lain. Mengetahui seseorang berbuat X, lalu membaca statusnya di jejaring sosial yang mengatakan Y itu menyebalkan. Yah, sebagian orang merelakan diri menjadi bahan tertawaan untuk orang lain. Tapi, saya menyadari, sebagian orang juga mengejar simpati. Kebahagiaannya, saat orang lain memandangnya dengan rasa kagum.


Hari ini, saya juga bertemu dengan orang yang membingungkan. Kadang dia bicara dengan baik di depan saya. Menguatkan, memberi saran. Namun kadang, entah karena kebetulan atau memang ditunjukkan Tuhan, saya bisa merasakan kalau diam-diam dia berdoa yang sebaliknya untuk saya. Baru saya tahu juga, beberapa orang diperlakukan sama. Untuk musang yang memakai bulu domba ini, saya tebak dia mengejar kepunyaan orang lain. Kebahagiaannya, melihat apa yang ia raih tak teraih oleh orang lain. 


Hari ini, saya bertemu dengan diri saya sendiri. Tiba-tiba, saya ingat dosa. Kenapa saya terlalu menilai ini dan itu tentang orang lain. Menilai tentang bagaimana mereka mencitrakan dirinya, bagaimana mereka ingin dilihat di depan manusia, apa yang mereka kejar, dan sebagainya. Saya begitu sibuk mengurusi orang lain sampai berpikir terlalu dalam tentang mereka. Hmm, atau mungkin apa yang saya pikirkan malah terlalu dangkal. Lalu saya buru-buru menghela nafas, merapal permintaan maaf pada Tuhan, dan berfikir tentang apa yang ingin saya kejar. Ternyata, saya ingin berprestasi juga, mendapat simpati juga, meraih apa yang orang lain bisa raih juga. 


Inilah manusia bernama "saya". Banyak berprasangka, perasa, dan tidak peka. Maka sebaiknya, saya belajar dari semua orang-orang yang saya temui hari ini. Belajar mengejar kepunyaan saya sendiri. Mengejar kebahagiaan. Karena pada akhirnya, setinggi apapun, sekeras apapun, seluas apapun, sesungguh-sungguh apapun, muara akan ada pada hati yang bahagia. 






Maka... untuk saya, mulailah menyiapkan hati yang selalu bersyukur. Kata mereka, bahagia selalu ada pada hati yang bersyukur.
Baca Selengkapnya...

Pagi ini dan Habibie

saat membuka mata pagi ini, yang diingat hanya kilasan mimpi semalam. aku akhirnya penempatan, di Kalimantan. yah, meskipun kenyataannya nanti akan entah di pulau apa.


mas, pagi ini Jakarta dingin. kalau tidak salah tebak, siang ini juga akan mendung seperti kemarin. baru dua bulan ditinggal saja, panasnya Jakarta sekarang jarang kelihatan. oiya, aku sayang kamu. kita jangan sering berantem ya, biar sayangnya nggak seperti cuaca.


umm... atau malah justru berantemnya kita yang bikin rasa sayang itu selalu ada ya. soalnya setelah adu argumen dan adegan ngambek-ngambekan, justru malah banyak hal spontan yang menunjukkan rasa sayang kita satu sama lain. ah, entah lah.



dua hari yang lalu aku nonton film Habibie dan Ainun. melodrama sederhana, tapi entah kenapa, aku mewek juga. aneh kan? di banyak bagian aku menangis. saat Ainun sudah meninggal saja, aku masih menangis waktu Habibi mengatakan "gula pasirku..." lalu kalimat demi kalimat yang diucapkan Habibie (asli) membuatku semakin terharu. lebay ya? nggak ah.


baru setelah nonton filmnya, aku baca surat asli dari Habibie kepada Ainun yang ditulis di bukunya.


aku mulai kagum dengan laki-laki ini.



Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu. Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti. Kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja.


Lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi. Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.


Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada.


Aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.


Mereka mengira aku lah kekasih yg baik bagimu sayang,  tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yg baik.


Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.


Selamat jalan. Kau dari-Nya dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku dan sekarang kembali tiada. Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku, selamat jalan, calon bidadari surgaku.



B.J. Habibie










aku ingin jadi bidadari surga buat kamu. sungguh.
Baca Selengkapnya...

Let's Simplify This



Beberapa hari menjelang salah satu momen penting dalam hidup saya. Tapi saya masih di sini, Jakarta. And doing nothing. Beberapa kali sempat terjadi konfrontasi antara saya dan... Entahlah. Setelah sekian lama, kamu tetap mahkluk paling cuek. Atau saya saja yang terlalu memaksakan diri. Dengan alasan sedang kedatangan tamu bulanan, kemarin saya meluapkan segala kemarahan saya ke kamu. Masalahnya selalu sama. Itu itu saja. Dan kamu tetap batu yang mental dengan gempuran kata-kata. Let's simplify this, honey. Menurutku komunikasi itu hal terpenting. Dan meluangkan sedikit waktu untuk menghubungiku itu mudah. titik.



October 2012.

Baca Selengkapnya...

Hey!

"Kamu tidak pernah jadi saya. Jadi jangan sok tau mengenai hidup yang saya punya. Jarak kita sepiring nasi. Kamu rendang hati, saya teri."


Sore itu, Latifah pergi meninggalkan Zahra.



Akhirnya tumpah juga.


















 "Saya benci kamu..."





nb: nggak tau mau nulis apah!
Baca Selengkapnya...