Kota Angkot

Akhir minggu kemarin adalah hari yang melelahkan buat saya. Tidak hanya karena perjalanan yang tidak terencana, tapi juga karena penyakit tiga bulanan yang masih setia menemani saya. Pilek.


Bermodal bismillah dan niat suci bersilaturahmi, saya nekat pergi sendirian ke kota Bogor. Sepupu saya, mbak Eny, sudah dari beberapa bulan yang lalu nyuruh saya mampir ke rumahnya. Dan bertepatan dengan haari kesaktian pancasila a.k.a hari Jumat keemarin, saya beserta tas kecil pink-hitam itu berangkat.


Hujan.


Begitulah keadaan ibu kota. Naik angkot dari depan kampus tercinta saya mulai perjalanan saya. Saat tiba di Stasiun Tebet, langsung saja saya beli tiket KRL jurusan Bogor. Pengen nyobain gerbong "women only", tapi rada males karena sudah banyak ibu-ibu, mbak-mbak, dan adek-adek yang antriannya bejibun. Next time aja lah.


Dapetlah saya gerbong tengah yang agak longgar tetap dengan model bergelantungan tangan alias berdiri. Alhamdulillah. Sekitar satu jam lebih sedikit saya tiba di stasiun Bogor. Karena si mbak yang g bisa jemput, jadilah saya naik angkot menuju Botani. Tadinya saya kira Botani itu nama ladang sayur-sayuran. Ternyata ujungnya ke mall juga. Hadeeeh. Nyari modem buat si Nurul.


Ceritanya, ada adek keponakan saya juga nih yang lagi berkunjung ke bogor, Nurul namanya. Belum genap dua minggu jadi keluarga besar "urban" di Jakarta, soalnya dia resmi diterima di STAN. Jadilah saya dan Nurul tamunya mbak Eny.


Karena mobil si embak yang lagi dipinjem sama adek suaminya, kita keliling-keliling pake jasa angkutan umum. Berkelana dari satu kantor operatot telepon ke kantor lain. Tujuannya masih sama, modem murah dengan koneksi secepat mungkin.


Tiga kali ganti angkot untuk tiga kantor beda operator. Okelah. Ujungnya pake modem 3 juga.


Saya mulai capek dan benar-benar emosi saat menaiki angkot keenam saya. Karena sudah sangat sore, jalanan menuju daerah Laladon, macet sangaat. Satu jam terjebak macet dan saya berada di dalam angkot. --"

Saya g membayangkan ternyata saya masih harus naik angkot ketujuh saya hari itu karena rumah mbak Eny jauh masuk ke kampung.




***




Hari berikutnya adalah perburuan printer, dan pilihan dijatuhkan di Darmaga, daerah kampus IPB. Jam di tangan menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dan alangkah indahnya pagi ini karena di angkot kedua saya menuju IPB, ada macet juga. Maceeeeett totaaaal.


Saya pengen teriak waktu itu. Jarak yang semestinya cuma lima menit berlipat-lipat jadi 45 menit. Sampai di IPB udah lemes. Hujan deress.


Kami terjebak hujan di tempat mas-mas penjual printer. Hampir dua jam pula. Rencana keliling kebun raya Bogor gatot, gagal total. Yang akhirnya diganti dengan kunjungan yang mengejutkan buat teman saya. Karena ingat ada Ria, temen SD, yang kuliah di IPB, kami memutuskan untuk beristirahat sebentar di kosnya. Hmm.. G nyangka ketemu ni anak di tempat yang jau dari rumah. Hehe..


G jadi pergi ke KRB, Pusat Grosir Bogor pun jadi alternatif pilihan. Mall lagi dan lagi. Tapi saya suka, wkwk..


Dari IPB ke daerah kota, harus dua kali naik angkot. Satu jam yang melelahkan sekaligus mangkelke ati terlewati di angkot. Tujuan mencari printer akhirnya pupus karena mbak Eny yang sudah terlanjur putus asa dan capek. Ya sudahlah, mari makan saja.


Sekitar jam setengah lima, kami melewati sore yang persis seperti hari kemarin. Angkot dan angkot dan angkot.


Saya pusing.




***




Hari Minggunya saya sedikit bersantai. Sebulan yang lalu, saya daftar jadi peserta international scholarship and education seminar di IPB. Ini lah salah satu alasan saya juga memutuskan pergi ke Bogor kemarin. Sambil menyelam makan kacang, eh, minum air ding, haha.


Mamanya si Nurul yang khawatir banget anak gadisnya yang baru kenal kota metropolitan ini kesasar, minta saya buat nganter dia pulang ke Bintaro. Karena saya pikir agenda saya di kampus juga masih longgar, yayaya, saya melanjutkan jalan ke Bintaro, tangerang. Sore itu juga.


Singkatnya, setelah dua kali naik angkot menuju IPB dan dua angkot untuk pulang ke rumah mbak Eny, saya masih harus naik angkot untuk pergi ke terminal. Ahaha... Besok-besok saya mau jadi juragan angkot saja kalau dapet penempatan di kota Bogor. Persepsi saya, kalau banyak angkot sampai jadi macet kayak gini, pasti orang-orang hobi banget naik angkot.




***






Kemacetannya kurang lebih kayak gini ini..




***




Hehehe... Curhatan saya ini kalau njelehi g usah terlalu dimasukkan ke hati ya. Untung saya cuma nulis di blog saya sendiri. Coba kalau saya teriak-teriak sama abang sopir angkotnya. Lebih seru pasti. uupppss..




Senin pagi dari Bintaro saya pulang ke Jakarta. Hmm...


Setelah ganti tiga angkot dan satu bus umum.


Setelah perjalanan tiga jam yang harusnya satu setengah jam.


Hehe..






Allah sayang aku ^^
Baca Selengkapnya...

Never Gonna Leave Your Side

I feel like a song without the words
A man without a soul
A bird without its wings
A heart without a home
I feel like a knight without a sword
The sky without the sun
cos you are the one


I feel like a ship beneath the waves
A child who's lost its way
A door without a key
A face without a name
I feel like a breath without the air
And every day's the same
since you've gone away


I gotta have a reason to wake up in the morning
You used to be the one that put a smile on my face
There are no words that could describe how I miss you
and I miss you everyday





and I'm never gonna leave your side
and I'm never gonna leave your side again
still holding on girl
I won't let you go
cos when I'm lying in your arms
I know I'm home


They tell me that a man can lose his mind
Living in the pain
Recalling times gone by
And crying in the rain
You know I've wasted half the time
And I'm on my knees again
'till you come to me


I gotta have a reason to wake up in the morning
You used to be the one that put a smile on my face
There are no words that could describe how I miss you
and I miss you everyday


and I'm never gonna leave your side
and I'm never gonna leave your side again
still holding on girl
I won't let you go
I lay my head against your heart
I know I'm home
I know I'm home
I know I'm home

and I'm never gonna leave your side
and I'm never gonna leave your side again
still holding on girl
I won't let you go
cos when I'm lying in your arms
I know I'm home


By Daniel Bedingfield


Baca Selengkapnya...

Tidak Selamanya Selepas Hujan Berjumpa Pelangi

selalu ada alasan untuk tersenyum setelah hujan



meskipun bukan karena pelangi

dan lainnya


 

sekedar mengingat kalian pun rasanya sudah cukup...







^ ^

Baca Selengkapnya...

Perjalanan Mencari Entah : Kota Tua

Tiba-tiba saja kemarin pengen jalan-jalan ke Kota Tua.


Ditemani Eka dan Ayu kami nekat pergi ke sana dengan keadaan yang setengah dipaksakan. Antara kepengen, penasaran, dan tepar.


Tepar. Ada-ada saja. Kalau dibilang ketularan sakitnya Ayu yang beberapa hari ini setia menemani dia, mungkin benar juga. Tapi Saya dan Eka tidak mau berpikiran begitu. Ini hanya karena kami malas olah raga saja, karena udara Jakarta yang sedikit jahat ditambah efek panas-hujan, makanya kami terserang radang. Khas mau flu. Penyakit caturwulan buat saya.


Hmm... Sebenernya kenapa milih Kota Tua jadi sasaran perjalanan kami, selain tempatnya yang cuma di daerah Kota, juga karena kami belum pernah kesana, juga karena hanya naek transjakarta, juga karena sedang menanti uang saku dari kampus, intinya yang murah meriah saja, hehe..


Dengan modal kamera cyber shoot milik salah satu korban perampokannya Ayu, perjalanan mencari entah apa dimulai juga.


Naik transjakarta dong. Tetep. Bukan busway lho. Haha..


Parahnya, jurusan yang kami tuju melewati halte maut itu. HARMONI.


Astaghfirullah.. Shelter transjakarta satu ini bikin saya gondok saja. Yang terbayang pasti antreaan orang yang kelewatan banyaknya. Dan feeling saya tepat sekali. Pas. Pas rame, pas penuh. Tapi perjalanan ini g boleh putus di tengah jalan. Lanjuut...


Tiba di spot tujuan, kita bingung juga. Akhirnya kita masuk ke museum Bank mandiri, trus ke Museum Bank Indonesia. Tengah bolong yang panas bikin kita sedikit kehilangan mood. Ya sudahlah. Paling g di museum kita dapet banyak foto, hehe... khusus buat saya, banyak njepret gambar.






Museum bank Mandiri. Terus terang saja, suasananya agak serem. Heeheee..




Si Ayu minta cepet keluar dari sini. Aneh katanya. Hadeehh. Ada-ada saja..




Singing "Semua terserah padamuuu... aku begini adanya... " Ahahaii



Setelah muter-muter selama dua jam, rasanya capek juga. Nyari makan lah kegiatan kita. Keluar dari museum Bank Indonesia, saya jadi kepikiran sesuatu. Ini daerah Kota Tua, tapi saya belum menemukan yang saya cari. Alasan saya berkunjung ke tempat ini.


Mana sudut yang suka nongol di tv tv itu yah? =D


kata Ayu sih ada di depan museum Fatahillah. Ee.., bener juga. Ternyata ada daerah lapang yang rame banget. Di sana sini banyak bersliweran orang-orang pada sepedaan. Ternyata ada persewaan sepeda mini plus topi pantai renda-renda. Xixixi.. Lucu juga.








Eka dan Ayu di depan museum Fatahillah. Kalau saya (waktu itu yang ngefotoin mereka) balik badan, ketemu lah sudut yang saya cari itu. Lupa ngambil gambarnya. =D


Yep. Yang saya cari sudah ketemu. Acara selanjutnya adalah bersantai dan kita memilih pohon beringin di depan museum keramik. Eh. Ini bukan disengaja lho ya..


Perjalanan kali ini intinya adalah museum. ^^


Waaa.. Yang penting seru-seruan aja daripada cuma tiduran g jelas di kos nungguin pengumuman IP.


Iya kan iya dong?!


Akhir dari rangkaian perjalanan mencari entah ini berlabuh di tempat makan favorit kami. bakmi Golek. Hiiaah. Alhamdulillah.. Semangkuk bakso urat yang baru saya coba ini enak banget. ^^








Kita bertiga di ruang emas. Bukan emas Bambang lhoo.., wkwk..





Baca Selengkapnya...

...

                                                                          
                                            sedang sangat sedih...


                 ya Allah..



harus kuat di depan mereka..

                                                                               apapun yang terjadi...
Baca Selengkapnya...

In The Afternoon

Kamis, 23 September 2010


Bau tanah basah.


Khas sekali jejak yang ditinggalkan oleh hujan. Saya sedang tidak berada di pekarangan rumah, atau kebun, atau apapun yang diselimuti oleh lapisan tanah. Saya duduk sambil menikmati kicauan burung kenari yang dipelihara bapak di lantai dua.


Saat saya menulis catatan ini, waktu di notebook menunjukkan pukul 5.47 pm.
Sudah sangat sore di Solo. Hmm.. bicara tentang sore, entah sejak kapan tepatnya, saya sangat menyukai waktu ini.


Pernah seseorang mengatakan pada saya, bahwa sore itu saat yang romantis. Saya sendiri belum mau mengartikan romantis sebagai berduaan dengan yang bukan hak saya. Romantis yang saya tangkap dari apa yang orang tersebut katakan, lebih pada suasana hati saya sendiri. Bagaimana waktu ini memberikan jeda untuk kita mengambil makna.


“Ambil lah waktu barang semenit untuk melihat matahari tenggelam. Rasakan saat ia menginjak rem hidup kita agar melaju lebih pelan. Memberikan kesempatan pada diri kita untuk merenungi apa yang terjadi sehari ini. Entah itu senang, sedih, atau yang lainnya. Ijinkan senja memberi jeda dan melahirkan makna. Apapun yang kita alami sudah seharusnya disyukuri.”


***




Salah satu sore paling indah di depan kos, Kebun Sayur, Jakarta.


***

Sayup saya dengar adzan maghrib berkumandang.


Saatnya saya berduaan dengan Rabb yang telah mengatur jadwal kehidupan yang saya lalui. Kembali sore ini saya berterimakasih karena masih dipercayai menghembuskan nafas, mendengarkan dua adik yang marah-marah karena telat dijemput, dan seporsi nasi ayam tulang lunak tadi siang.

Baca Selengkapnya...

New Place for "Kulineran"


Huhuhu..

Malam terakhir tidur di rumah untuk liburan kali ini. Waktu tiba-tiba berubah jadi alarm yang siap berbunyi sekenceng-kencengnya besok sore jam 6 tepat. Dan saat ini saya sedang sangat malas bangun untuk sekedar packing-packing dan mencari oleh-oleh.

Dua bulan selama liburan di rumah saya sangat menikmati fasilitas internet langganan yang kecepatannya asik gila. Inilah salah satu alasan saya belum mau balik ke Jakarta. Hehe.. Jadi ketauan kerjaannya nongkrong di depan leptop.

Dua bulan liburan di Solo ternyata nambah wawasan saya mengenai kulineran. Kalau soal jajan dan makan-makan, jangan ditanya lagi hobi yang satu itu. Apalagi Solo terkenal salah satu surga makanan juga. Saya memenukan banyak tempat makan baru. Ada yang makanannya enak banget tapi suasananya biasa. Ada juga yang makanannya biasa, tapi suasananya menentramkan jiwa, wkwk.

Tempat makan favorit saya dan teman-teman kalau pas di Plasa Atrium Jakarta namanya D'Cost. Restoran seafood yang satu ini komplit banget. Meskipun saya sendiri bukan penggila seafood, tapi harga es teh yang cuma gopek alias lima ratus perak jadi magnet tersendiri. Apalagi tambahan promosi nasi yang sepuasnya cuma seribu rupiah. Haduuuh... Pasti kenyang kalau makan di sini. 





Ternyata oh ternyata, di Solo Square baru dibuka juga ini restoran. Karena penasaran, akhirnya saya, Eka, dan Ayu milih buka bersama di tempat ini. Hmm.. Seporsi besar ikan gurame asam manis, cumi masak padang, dan bakmie seafood pun kami lalap habis. Enaknya g jauh beda sama yang di Jakarta, hahaii.






Tempat makan selanjutnya yang berhasil saya temukan adalah Ayam Resto, di daerah Klodran. Spesial masak ayam-ayaman disini, favorit saya es kelapa mudanya, wkwk. Meskipun agak g nyambung, saya datang dua kali kesini hanya untuk menemui di es kelapa muda. Mungkin saya sedang ngidam (week, yang ini g bener). Tapi ayam tulang lunak di restoran ini lumayan enak. Lunaaak banget. Selain kelapanya, gazebo di Ayam resto juga banyak. Kalau mau bawa sanak saudara kesini, sekelurahan juga masih cukup tempatnya. Hehehe.. Lebay mode ON.


Lanjut kulineran ke daerah sekitar stadion Manahan. Namanya Pondok Jowi dan yang khas dari restoran ini adalah nasi bakarnya. Ceritanya saya jadi event organizer teman-teman eks pasukan tujuh belas (semacam paskibra, di SMA N 3 Surakarta). Atas saran dari seorang sahabat yang sudah terlebih dahulu jadi senior di dunia perkulineran kota Solo, akhirnya saya memilih tempat ini. Setelah melihat-lihat tempatnya, haduuh, so romantic. Sebenarnya restoran ini adalah rumah biasa yang disulap dengan memasang sedikit lukisan, membalutkan kain kotak-kotak ala Bali, sedikit hiasan ranting kering, dan beberapa meja kayu yang berpasangan lengkap dengan kursinya. Sederhanya, tapi sangat nyaman. Saya suka sekali tempat ini. Untuk lauk dan minumannya agak standar. Tapi teri yang sembunyi di balik nasi bakar dan gending jawa yang diperdengarkan terlalu asik untuk dilewatkan.






Tidak berhenti di tempat itu saja lho. Buka bersama sahabat SMP yang tadinya janjian di area foodcourt Solo Grand Mall, pindah ke lesehan depan DPRD Solo. Dan menunya saya suka sekali, bebeeeek. Yap, lesehan yang khusus menyediakan bebek dan ayam goreng ini "anak muda banget". Harganya juga standar. Untuk acara santai sambil ketawa ketiwi ala mahasiswa, paass.


Nah, terakhir tempat yang saya temukan adalah Dapur Sandwich. Dari namanya, bisa dipastikan kalau menu utamanya adalah sandwich. Yummy banget. Mulai dari sandwich sayuran dan daging, isi buah-buahan, sampai aneka sandwich yang duet dengan es krim. Porsi bisa disesuaikan selera. Mulai dari small sampai ukuran big ada juga. Untuk dekorasi tempatnya bisa dibilang biasa saja. Tapi saya jamin, aneka sandwich ini akan memanjakan sekali. Hihihi.. 

Semua tempat ini baru saya temui dua bulan terakhir ini lho. Hehe.. Jangan ditanya tempat makan lama yang makanannya g kalah enak. Kapan-kapan deh cerintanya. Okaiii. ^.~a

Baca Selengkapnya...