Si Tumis


Dari tadi search engine di leptop belum juga menjalankan fungsinya. Kantor sepi pekerjaan karena pak bos sedang ada pertemuan di Jepang. Katanya, pekerjaan yang kami kumpulkan kemarin akan dipresentasikan di sana. Yah semoga ada manfaatnya.

Ada ungkapan umum di masyarakat, jika ingin menarik perhatian pria maka mulailah dari perutnya. Saya hanya tersenyum. Jika dibandingkan dengan ibu-ibu yang membuat ungkapan ini, sepertinya saya jauh lebih beruntung. Suami saya memang pemilih soal makanan, tapi apapun yang saya sediakan untuknya selalu dimakan, tanpa dicela.

Jadi sekarang, search engine ini sudah tahu akan saya beri tugas apa. Bantu saya mencari resep tumis paling enak sedunia. Agar nanti saat bertemu dengan yang-tercinta-saya, saya bisa langsung membuatnya. Baru membayangkan dia makan dengan lahap saja sudah bahagia.


Jadi seperti ini rasanya menjadi istri, soal resep tumis bisa sangat menyenangkan hati.


Gambarnya saya ambil dari internet dulu ya. Hihihi

 






gambar dari sini
Baca Selengkapnya...

Masih tentang Rindu



rindumu 
sinar mentari menyelinap masuk di sela-sela vertical blind mengenai mataku 
hangat 


pulanglah 
hamparan sawahku siap memelukmu 
matahariku









Pusdiklat, 7 juni 2013. Terjebak di tengah hujan sinar matahari dan presentasi.




Pict taken from here
Baca Selengkapnya...

Muter-Muter Pantai Gedong


Bismillah. 

Nggak ada kerjaan nih di kantor. Seperti biasa. Jadi pengen sharing acara “muter-muter” sama suami beberapa waktu lalu. 

Nah, habis nikah ceritanya saya sama si mas stay di rumah ibu mertua saya selama beberapa hari. Karena kami masih libur dan nggak ada kegiatan apa-apa di rumah (selain pacaran), jadi kami muter-muter Lasem. Oiya, Lasem itu nama daerah di Kabupaten Rembang. Daerah ini masih wilayah pantau utara (pantura) Jawa. Karena dekat rumah banyak pantai, jadi si mas ngajakin saya ke salah satunya. Pantai Gedong. 

Pantai ini belum dikelola dengan baik. Masih semacam pantai suka-suka. Waktu kami lewat gerbangnya, hanya ada beberapa warga yang bikin karcis-karcisan buat narik uang dari pengunjung. Tapi nggak mahal kok. Kalau nggak salah ingat, tiga ribu rupiah aja per motor. Waktu masih jaman gegalauan, mungkin saya pergi ke pantai buat ngelarung macam-macam perasaan lalala-yeyeye. Tapi sekarang, pergi ke pantai adalah menghabiskan waktu berhangat-hangat dengan orang-orang tersayang. Membuat memori seindah mungkin yang bikin suatu-saat-aku-mau-ke-pantai-ini-lagi. 

Daaan, mewujudlah memori indah ini dengan seseorang yang menemani saya menghabiskan-waktu-berhangat-hangat. Teteup narsis kami.





 












Kaaan… Meskipun nggak sebagus Kuta, apalagi Phuket, pantai sederhana ini adalah memori indah saya karena ini pantai pertama yang kami kunjungi paaas banget setelah menikah. Yah, semoga bisa pergi ke pantai berbeda lebih banyak lagi sama-sama. Aamiin3289x ^^















Baca Selengkapnya...

Tidak Lebih, Tidak Perlu Dilebih-Lebihkan

Arti sahabat kadang sesederhana saat ini. Mereka yang menemani tertawa dan tidak berpura-pura. Tidak lebih, tidak perlu dilebih-lebihkan. Kadang saking percayanya dengan seseorang, justru kita tidak pernah tahu. Bahwa suatu saat kita bisa mendapati diri kita sedang mengepak namanya dalam satu kotak. Kotak yang isinya penuh dengan hal-hal menyenangkan, namun melukai kita pelan-pelan. Kotak yang ingin kita kuburkan, tinggalkan, lalu kita lupakan. Kotak yang kita harapkan tidak ditemukan oleh siapapun di masa depan.


Baca Selengkapnya...

Piknik Yuk Cinta




Hai lelaki satu shaf di depanku... Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu diiringi dengan rahmat dan barakah-Nya untukmu.


Hari ini genap lima belas hari kamu pergi berpiknik. Piknik yang katamu kadang melelahkan, karena selalu ada setumpuk dokumen yang mesti diselesaikan. Sabar ya cinta. Meskipun kelewat membosankan, piknikku disini lumayan juga. Teman-teman yang menerimaku apa adanya, setumpuk film korea, perjalanan di kereta, dan guyonan sederhana cukup menghangatkan hariku tanpa keberadaanmu.


Jadi begini rasanya menjalani apa yang tadinya hanya kita reka-reka saja. Tiba-tiba aku sering kangen rumah. Ia jauh, tapi rasanya dekat. Sekalinya aku ingat kamu, kesitulah aku ingin menyandarkan kepalaku, bahuku, dan hatiku; memulangkan kangenku.


Hai cinta... 
Kapan kita piknik berdua (lagi)?







*langsung bikin list*
Baca Selengkapnya...

Malaikat di Sekitar: Emak


Bismillah.


Akhir-akhir ini saya jarang tidur malam. Jadi susah juga mau sekedar ngeblog.

Emm. saya mau nunjukin salah satu "malaikat di sekitar" yang saya punya. Hampir dua bulan setelah menikah, saya menempati dua kos. Satu kos lama saya (yang saya tengokin kadang-kadang di hari kerja-dan saya tempati sama si hubby saat hari libur) satunya adalah kos emak (yang hubby dan saya tempati di hari kerja dan dianggurin saat hari libur). Ribet ya? Enggak.

Emak ini janda dengan enam orang anak. Karena beliau tinggal sendiri dan kebetulan kamar kosannya ada yang lagi kosong, akhirnya saya sama hubby memutuskan tinggal di tempat tersebut. Selain punya kos-kosan, emak punya sebuah warung kecil. Jadi kalau butuh apa-apa, kami tinggal turun saja ke lantai bawah.

Emak sudah seperti nenek kami sendiri. Beliau sayang banget sama saya dan si mas. Suatu sore, mas memberitahu emak tentang kabar penempatannya. Besoknya waktu saya pulang kerja, emak yang sedang menunggui warung menghampiri saya.

"Neng, si mas bentar lagi penempatan ya neng..." 

"Iya mak. Saya minta doa restunya ya mak. Maaf juga kalau selama saya sama mas disini banyak ngrepotin emak" 

"Iya neng... Padahal baru sebentar ya neng..." .... dan emak pun menangis.

Saya jadi ikut nangis waktu emak bereaksi demikian.

Di rumah kecil itu, akan selalu ada kotak berisi kenangan indah saat dibuka nantinya. Ada saya, si mas, tawa kecil, tangisan sederhana, dan malaikat kami.

Saya yakin, dia hanya satu dari "malaikat-malaikat di sekitar" yang dikirim Allah untuk kami.


ini foto bersama dua hari sebelum mas penempatan


Terimakasih emak :)




sayang emak :')
Baca Selengkapnya...

Papandayan, I'm in Love


Baru-baru ini ada beberapa temen yang pergi ke gunung Papandayan. Hummm, jadi inget setahun lalu kesana juga sama temen-temennya si hubby. Dan sampai sekarang belum sempet nempelin fotonya di lapak gelap.


Yakk, tepat tanggal 12-14 April 2012 (pas banget ulang bulan) saya, hubby (dulu masih calon suami :p), mas ubay, mas cahyo, mas fufu, yeyen, dan mbak wida nekat ke papandayan. Saya sendiri sebenernya suka sama kegiatan macam pecinta alam yang naik-naik gunung. Tapi karena nggak pernah dapet restu orang tua untuk ikut organisasi kepencita-alaman jadi ya minim pengalaman. Tapi jangan salah, boleh diuji fisik saya soal beginian.


Saya sempet nulis tentang trip ke papandayan di tumblr tahun lalu. Jadi, saya copasin aja ya ke sini. Hihi.


 ***


Hari jumat tanggal 13 kemaren, aku ikut rombongan mamas “muncak”.

Tujuannya... gunung Papandayan, di Garut. Kami berangkat dari terminal Lebak Bulus jam 10 malam, pake bus terakhir. well, karena aku gak bisaan banget naek bus, sepanjang perjalanan tidur terus karena efek antimo. Hahaha. Ya mending lah daripada mabuk darat laut dan udara :p



Formasi lengkap. Yeyen, mas fufu, mbak wida, mas ubay, aku, mantan pacar, dan mas cahyo.


Sampai di Garut jam 3 pagi. Disana udah ada bang… (aku lupa nama abangnya). Kami dijemput naik mobil bak terbuka menuju pos di kaki gunung Papandayan. Brrr. Duinginnya minta ampuuun. Sampai disana sekitar jam 4. Masih gelap banget. Dan suasana jadi makin romantis karena kami harus numpang di salah satu warung untuk menghangatkan diri (baca: nimbrung sama “teteh” di warungnya lalu membajak sebuah lampu petromag buat ngangetin badan).


Menunggu pagi di warungnya teteh. Brrrrrr.


Oiya, aku malah lupa memperkenalkan rombongan kami. Pimpinan ekspedisi kali ini mas ubay (mas bayu). Seksi perlengkapan ada mas fufu (mas fuad), mas cahyo, dan mas arga. Seksi konsumsi ada mbak widha dan yang bawaannya nggak jelas ada yeni dan aku.

Lanjut ke cerita awal :D


Dan, dimulailah perjalanan kita...



Dimana-mana asap. Sepanjang perjalanan menuju ke pondok salada. Subhanallah.



Karena langit yang ngambeg terus dari kami tiba sampai pagi, sekitar jam 8an kami baru naik. Pendakian berlangsung seru. Berliku-liku. dan becekkk. sekitar 3 jam, kami sampai di pondok salada. Tempat ini semacam tanah lapang yang luas, fungsinya untuk camping. Sekitar sejam kami mendirikan tenda, bercanda-ria, dan membereskan perlengkapan. Rencana untuk langsung chao treking lagi gagal karena hujan yang nggak mau berhenti.

Setelah menunggu, jam setengah 2 kami berangkat. Bermodalkan nekat dan nyali, kami berniat menuju ke death forest. Semacam hutan dengan tanah warna putih dan pohon2 yang mati terkena lahar. Dari kejauhan sepanjang perjalanan menuju ke pondok salada, sebenarnya kami telah melihat tempat itu. Kata seorang bapak warga asli Papandayan yang kami temui, death forest tempatnya dibalik bukit.

And you know? Di sini banyak sekali bukit yang killer banget viewnya. Huhu.


Jalan sama para pencari belerang






Istirahat di tengah perjalanan. Melancarkan aksi foto-foto.



Bukan dimana, tapi dengan siapa. I love you yesterday, today, and (Insya Allah) tomorrow.



Mereka yang sekampus. Mas fufu, mantan pacar, mbak wida, mas cahyo, dan mas ubay.



Kumpul bocah ^^v



Happy happy together



Killer view



Death forest dari kejauhan


Bermodal nekat, naik saja kami menuju arah yang diberitahukan seorang teman sesama pendaki. Kami berusaha mencari sisa-sisa potongan tali rafia yang ditinggalkan pendaki sebelumnya. Tapi lama kami menyadari, makin jauh kami dari death forest. Damn. Selama hampir dua jam kami tersesat. Ternyata ohh.

Dalam perjalanan pulang ke pondok salada, mas fufu punya ide. Karenanya, kami mencoba rute lain menuju death forest. Waktu yang ditargetkan setengah jam. Kalau dalam setengah jam kami tidak menemukannya, maka kami harus segera pulang ke tenda.

And it’s amazing!!! Dalam waktu kurang dari 20 menit kami sampai di death forest. Ternyata jalan awal yang kami lalui itu arah sebaliknya. Alhamdulillah ya Allah. Hehehhe






Mas cahyo yang sedang membully dirinya sendiri -__-



Seneng banget kamu, Nob :p



Pose tercupu. Hihihi. :*



Fotografer kitaaaaa



Itemmm semuanyaaa



Karena hari mulai gelap, kami memutuskan untuk pulang, beristirahat, dan tentu saja„, makan. Cacing di perut kami sudah dari tadi minta nasi :p Perjalanan menuju padang edelweis kami lanjutkan keesokan harinnya.

Berkemah di alam terbuka sebenarnya bukan yang pertama buatku. Dan semua camping di gunung menyisakan satu hal yang menjengkelkan. Dingin. Meskipun aku sudah memakai jaket tebal yang dibawakan teman sekosan dan sleeping bag yang tebal itu, tetap saja… Duiiiingiiiiiiiinnnn banggeddd udaranya.


Ini tenda kami. Sederhana tapi penuh cinta. Eaaakkkk...



Begitu tenda berdiri, langsung pada teparr dan berpose malas di tenda masing-masing



Mas fufu. Menikmati makan siang.



Tenda cewek-cewek kece


Tau nggak, malam di Papandayan aku habiskan dengan main UNO. Dari dulu aku sudah sering denger UNO, tapi, main langsung ya baru di sini. Sama mbak widha, yeni, mas fufu, dan mas arga. Seru, sampai dalam beberapa jam, kami nggak sadar kalau kami sedang kemping di gunung. Soalnya hawa dingin tiba-tiba saja menghilang entah kemana. Tapi seiring mata yang sudah nggak bisa lagi diajak kompromi, kami nyerah juga.

Pagi hari kami berangkat lagi menyusuri death forest. sekitar seperempat jam kami tiba (lagi) di sana. Lumayan lah.

Oiya, ngomong-ngomong masalah naik gunung, susah sekali bicara “puncak” di Papandayan. Terakhir kami dengar dari orang-orang, 10 orang pendaki tersesat karena mencari puncak gunung Papandayan. Kalau nggak pake pemandu, susah sekali. Apalagi dalam cuaca hujan dan kabut yang terus membayangi, target kami kali ini padang edelweis, tegal alun.


Perjalanan ke tegal alun. Jalannya naik-naik ke puncak gunung terus.


Kami menyusuri jalan yang agak curam. Terus naik yang jelas. Sesekali saat kami berhenti, banyak ketenangan yang nggak bisa kami dapatkan di ramainya Jakarta. Benar-benar sejuk, tenang, alami, hijau, dan damai. Sangat indah. Di depan kami menghampar gundukan gunung, bukit, dan langit yang cerah. Asap dari kawah Papandayan dan beberapa suara memanjakan telinga, kicauan burung. Sungguh, tidak bisa memenui semua ini setiap hari. Di sana yang tersisa adalah rasa syukur. Karena aku sudah bisa merasakan semua itu bersama orang yang aku sayangi.

Sempat kami menebak-nebak, apa mungkin beberapa kilometer dari death forest ini puncaknya? Tapi, kami segera sadar kalau masih ada jalan yang membawa kami ke tempat yang lebih tinggi. Di depan semak-semak dan tanjakan yang agak gelap, ada cahaya terang yang datang dari arahnya.

Hwaaaaaa!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Padang edelweis!!!

Kami akhirnya sampai di sana. Alhamdulillah ya Allah. Perasaan lega dan senang luar biasa kami ekspresikan dengan berteriak sekencangnya. Lari sekencangnya lalu berhampuran ke padang. Indah sekali.



Cheers ^^/



Mas cahyo. Senyum anak bangsa.



 Aku sama yeyen



Capek lari-larian. Begitu duduk dan liat ada kamera langsung pada pose.



"Aku punya temaaan.... teman sepermainaaan... Uhuhuh." Maia mode ON.



Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar! Indahnya duniaaaaaaaaa!!!!



Padang edelweis



Foto yang ini dari kamera yang aku bawa. It's too beautiful, isn't it?


Selama satu jam kami menikmati suasana di tegal alun. Berfoto, saling canda, dan lari kesini-kesana. Menyenangkan.

Lalu kami turun dengan perasaan gembira. Masih sama seperti judul keberangkatan kami kemarin. Fun Piknik. Dan 3 hari ini memang luar biasa.

Meskipun mbak widha nggak ikut memburu death forest dan padang edelweis, tapi kami harus berterimakasih. Karenanya, tenda jadi rapi dan semua piring sudah dicuci. Hihihihi. Lain kali ikut naik yuk mbak :)


 Habis dirapiin sama mbak wida, trus kita berantakin lagiii :D wkwkwkwkwk



Ini ceritaku 13-15 April 2012


***

Foto-foto diambil oleh mas ubay. Kamsahamnida mas uuuub :')
Baca Selengkapnya...