Jadi Inget PKL

Dua minggu kemarin ada pembubaran panitia PKL 50. Ah jarkomnya payah. Masa’ pembubaran. Yang bubar siapa? Kita kan masih sama-sama selama masih satu institusi. :p

Acara itu intinya semacam pengen menutup secara tidak resmi segala kegiatan yang ada hubungannya sama PKL. Ada makan-makan, cerita-cerita, dan nonton bareng film PKL.

Duduk di tengah ratusan teman-teman seangkatan, sambil ngesot dan gelap-gelapan nonton film PKL itu... kaya’ kita PKL lagi. Kaya’ pulang jam setengah dua malem, lewat Kebon Sayur sendirian, lalu ketiduran di kelas paginya. Kaya’ sehari semalem nahan muntah gara-gara supir P.O. Hariyanto nyupirnya nggak karuan selama Jakarta-Surabaya. Kaya’ nyacah 1 blok sensusnya Tat-Tat sendirian, sementara dari 3 blok sesus yang jatahnya buat 2 orang, kamu udah selesai 1 blok. Kaya’ jalan sendirian muterin blok 013B, dan semua orang berbahasa madura –yang kamu nggak ngerti- merhatiin kebingungan kamu. Kaya’ naik motor di pematang sawah setengah meter blok 001B dan hampir kepleset karena ngeliatin rumah sebelah mana yang belum ditempel stiker.

Inget Suramadu, Madura, Penduduknya, inget cerita-cerita serem tentang orang Madura, yang ternyata beda banget sama kenyataannya. Mereka ramah dan baik. Banget.

Kalau kuliah di tempat lain, mungkin saya nggak bisa merasakan pengalaman ini. Bikin survei yang pake milyaran anggaran negara, 300an mahasiswa dan dosen, sama-sama berangkat ke Madura. Misinya satu: BELAJAR.


garda depan tim Sampang telah menyelesaikan pencacahan selama 10 hari
sesaat menjelang kepulangan ke Jakarta



 meeting di hotel oval, Surabaya. -ngapain bawa2 mic segala, mbak?-
Sebelum keberangkatan ke Madura



 di hotel oval



serius, saya jaraaaang banget pake jaket PKL pas di Madura, hihi



 sebelum ke Madura, pertemuan dengan wakil dari kantor gubernur Jawa Timur



 tim 7. Kiki, Dewi, dan saya. hahaha xp



Mas Maulid, pendamping, ehh, penerjemah saya selama di Madura



 Meja ruang tengah tempat tim 7,8,9, dan 11 berkumpul. jorok. hahahaha



 ahhh, lucunya adek-adek ini



 foto bersama bapak dan ibu (induk semang selama di Sampang) di depan rumah



Well. Cerita yang bikin sebel selama di PKL nyatanya nggak ngaruh sama sekali sama kehidupan saya sekarang. Maksudnya, yang tersisa emang cuma pelajarannya aja. Kangennya juga. Saya masih pengen ke sana kalau diberi kesempatan. Ke pantai-pantai indah di Sumenep, foto di jembatan suramadunya, ke masjid agung Sumenep, ke restorannya Pak Djie –yang saya search di internet sebelum berangkat PKL- -yang letaknya di kabupaten penempatan saya, Sampang- -yang tetep aja belum bisa saya datengin sampai akhir PKL-, pengen makan bebek songkem yang dimakan bareng2 teman-teman serumah waktu disana. Hehehe... banyak yang bikin saya pengen ke Madura lagi.

2 comments:

LintasKoran said...

nice share

Thanks

Eva Dina Lathifah said...

ahaha
asik kak :D

Post a Comment

Terimakasih sudah mampir :))